Wajahku = atau # Cerminan Sifatku ?

Semua yang kita miliki saat ini pastinya diberikan oleh yang Maha Pencipta. Mulai dari tubuh kita, harta benda, anak, istri, suami dan berbagai nikmat lainnya yang tidak mungkin bisa saya sebut satu persatu karena saya yakin begitu banyak jumlahnya.

Ada pemberian Tuhan yang masih bisa (atau mungkin wajib) kita usahakan untuk bisa menjadi lebih baik lagi, namun ada pula beberapa pemberian Tuhan yang harus kita terima sebagai takdir. Salah satu contoh pemberian Tuhan yang masih bisa kita usahakan misalnya rejeki. Kita tau pasti semua rejeki juga sudah ada yang mengatur namun menurut agama yang saya anut, manusia tetap harus berikhtiar dan berusaha untuk bisa memperoleh rejeki (maksudnya tidak mungkin ada uang yang turun begitu saja dari langit toh??).

Salah satu pemberian Tuhan yang harus kita terima sebagai takdir yaitu tubuh kita beserta anggotanya. Termasuk diantaranya yaitu wajah . Saya tidak mempersoalkan tentang cantik atau gantengnya wajah, menarik atau buruknya wajah, atau apa warna wajah kita dan berbagai hal lainnya yang berhubungan dengan tampilan wajah manusia. Kenapa kita harus terima wajah sebagai takdir ? Ya iyalah ….masa’ ya iya dong….( kagak nyambung ye…) Maksudnya wajah yang kita miliki sekarang ini, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, ikhlas atau tidak, harus kita terima. Karena apa dan bagaimanapun bentuk or wujudnya, tidak mungkin bisa kita ganti or tukar sesuai keinginan ( terkecuali punya uang yang sangat banyak supaya bisa operasi wajah, meskipun hasil operasi wajah belum tentu sempurna, bahkan ada beberapa orang yang habis dioperasi wajah, hasilnya malah mengerikan …hi…hi….).

Nah…kalau  dicermati lebih jauh judul tulisan saya diatas,  benar atau tidaknya, bahwa wajah mencerminkan sifat atau karakter seseorang, Wallahuallam. Meskipun selintas, kadang orang menilai orang lain tentunya dari apa yang terlihat oleh mata. Dan yang terlihat oleh mata pertama kali ( sebelum mengenal lebih jauh karakter atau sifat seseorang ) pastinya secara fisik lebih dulu. Seringkali kita lihat, ada orang yang wajahnya berseri-seri, wajah orang yang kelihatannya selalu tersenyum (mungkin lebih dikenal dengan istilah “smiling face”), wajah yang kelihatannya jutek, wajah melankolis, wajah arogan, wajah sadis dan masih banyak lagi kategori lainnya. Kalau memiliki wajah yang kata orang “smiling face” atau yang terlihat selalu berseri-seri mungkin kelihatannya  lebih menyenangkan. Tapi bagaimana kalau sebaliknya, wajah yang dimilikinya termasuk dalam kategori wajah yang berkonotasi negatif ya itu tadi jutek,sadis, arogan or melankolis ( tentu saja menurut penilaian orang-orang yang melihatnya).  Ada orang-orang  yang sadar sepenuhnya kalau wajahnya memang sudah begitu dari “sononya” atau dengan kata lain memang sudah bawaan orok (he..he..). Dan tetep “keukeuh” ( ehm sedikit pake istilah Sunda nih, bener gak tulisannya ya?) kalau dia tidak memiliki sifat yang sama dengan apa yang terlihat dari wajahnya. Orang-orang tersebut berpendapat bahwa, kalau sedang tidak tersenyum memang tampilan wajahnya terlihat tidak atau kurang menyenangkan, yang mengakibatkan banyak orang yang melihatnya menjadi enggan atau bahkan takut untuk bertegur sapa dengannya.

Bagi mereka yang merasa memiliki wajah yang terlihat berkonotasi negatif, namun memiliki sifat agak cuek tentu hal tersebut tidak menjadi masalah besar. Cuek yang saya maksud di sini artinya orang-orang tersebut lebih memilih tidak perduli dengan berbagai komentar atau reaksi orang lain terhadap wajahnya. Bagaimana kalau sebaliknya? Maksudnya orang tersebut tipe orang yang perasa atau sensitif dan tidak bisa terima dibilang orang yang berwajah jutek, sombong, arogan atau sadis.  Jawabannya ya cuma satu, berusahalah untuk tetap percaya diri dan mungkin sedikit cuek juga perlu. Tetap aja positive thinking dan anggaplah bahwa orang-orang tersebut toh tidak terlalu atau bahkan memang tidak sama sekali mengenal kita dengan baik, so siapapun boleh dan bisa berkomentar apa saja tentang apa yang mereka lihat. Kalau memang ada suatu kondisi yang membuka peluang bagi kita untuk bisa mengenal lebih dekat satu sama lain, tunjukkan kepribadiaan kita yang sebenarnya ( jangan kepribadian ganda, maksudnya sifat atau karakter kita yang baik). Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan orang-orang tersebut pasti akan menilai kita dari sisi baiknya, dan bahkan akan menyesal telah menilai kita jutek, sombong dll. Satu hal lagi, bagi yang merasa agak sensitif atau perasa, jangan mudah kesal kalau ada komentar orang yang kurang menyenangkan tentang wajah kita. Karena lebih baik memiliki wajah yang terlihat jutek, sombong, arogan or sadis tapi sebenarnya hatinya bersih dari hal-hal seperti itu. Sifat dan pembawaannya menyenangkan serta pribadi yang hangat,  bisa berteman dengan siapa saja. Daripada sebaliknya, terlihat baik dari wajahnya, tapi prilaku sehari-hari sangat jauh dari apa yang terlihat di wajahnya. Kalau mau positive thinking, justru orang-orang yang berwajah jutek atau sadis harus bisa bersyukur kepada Tuhan karena “for special case”, tampilan wajah seperti itu justru sangat diperlukan. Misalnya, kalu kebetulan lewat di daerah terminal or tempat-tempat yang banyak kelompok premannya, pasti yang berniat macam-macam jadi gak pede mau berbuat jahat ( ya..iya lah bo…kalah serem kali wajahnya he..he..), atau buat cowok-cowok iseng yang suka godain siapa aja yang lewat di pinggir jalan, pasti ogah gangguin (secara gitu lho…wajahnya jutek banget jadi takuuuut…). Tuh kan, ternyata masih ada sisi positifnya juga. Finally, enjoy aja dengan apa yang sudah dikasih Tuhan dan bersyukur apa dan bagaimanapun bentuknya, yang paling penting kita mampu menjaga hati untuk tetap memelihara sifat dan prilaku yang baik seumur hidup kita.

Satu Tanggapan to “Wajahku = atau # Cerminan Sifatku ?”

  1. ikrarestart Says:

    memang benar kita sering menilai orang dari wajah saya juga punya artikel tentang subjektivitas di artikel lama saya yang berjudul “akuilah kita itu subjektif” mohon komentarnya ya mom.

    tapi kasihan juga cowok yuang wajahnya jutek bisa bisa digebukin preman di pinggir jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: