Dilema Ibu yang bekerja : Antara kebutuhan dan kewajiban

Seorang wanita yang sudah menikah, lazimnya ingin memiliki anak serta membesarkan buah hatinya dengan harapan dan cita-cita yang baik. Ada kebahagiaan tersendiri bila seorang ibu bisa melihat dan menyaksikan anak-anaknya tumbuh sehat dan cerdas. Tidak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaan seorang ibu yang memiliki anak-anak yang esok lusa akan menjadi manusia-manusia yang yang soleh dan soleha, manusia yang sehat jasmani dan rohani-nya,manusia-manusia yang berguna bagi dirinya sendiri,orang lain atau bahkan bagi bangsa dan negaranya.Idealnya, tumbuh kembang seorang anak memang didampingi oleh ibunya. Karena fitrah seorang ibu bukan hanya mengandung bayi dan melahirkan bayinya dalam kondisi sehat wal’afiat. Tugas selanjutnya merupakan tugas berat yaitu bagaimana merawat dan mendidik buah hatinya dengan sebaik-baiknya. Karena kewajiban merawat dan mendidik anak sebagian besar ditujukan kepada seorang ibu, meskipun tetap ada peran ayah di dalamnya, membuat banyak wanita lebih memilih berkarir sebagai ibu rumah tangga. Seorang wanita yang sudah menikah,  dengan alasan ingin bisa konsentrasi pada urusan rumah tangganya, bahkan rela melepas karirnya meskipun sudah menduduki posisi yang layak dalam perusahaan atau kantor tempatnya bekerja.

Bagi mereka yang lebih memilih melepas karirnya dan menjadi ibu rumah tangga, dilatarbelakangi oleh banyak faktor antara lain :

1. Suami sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama dianggap sudah mampu memenuhi standar hidup layak bagi keluarga tersebut. Hal ini yang membuat seorang ibu akhirnya memilih untuk tidak lagi bekerja karena toh tanpa harus capek-capek kerja, suami bisa memenuhi segala kebutuhan rumah tangganya.

2. Krisis kepercayaan terhadap orang yang akan menggantikan posisi seorang ibu apabila ibu bekerja di luar rumah. Hal ini banyak sekali terjadi, maklum saja apabila anak diasuh oleh pembantu atau baby sitter atau bahkan saudara/family yang kita percaya sekalipun, tetap saja ibu merasa tidak yakin semuanya berjalan lancar. Dalam pikirannya pasti hanya ia, sebagai ibu yang mengandung serta melahirkan, yang bisa mengurus dan merawat anak dengan sebaik-baiknya. Belum lagi masalah yang timbul tentang pembantu atau pengasuh bayi yang belum tentu cocok dengan kriteria, atau karena kesulitan mencari pembantu/pengasuh bayi.

3. Tidak diizinkan oleh suami untuk bekerja. Untuk hal yang satu ini mungkin juga berkaitan dengan 2 faktor diatas. Tapi yang jelas, kalau sudah tidak mendapat restu suami, tentu akan sulit untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Yang akan terjadi mungkin cek-cok dengan pasangan yang  bisa menganggu kinerja ibu di kantor dan juga memperburuk hubungan dengan suami. Untuk menghindari hal tersebut, akhirnya kebanyakan ibu memilih menuruti permintaan suaminya.

3 faktor yang disebutkan diatas memang menjadi alasan bagi seorang ibu untuk berhenti bekerja. Namun bagaimana jika seorang ibu tetap (atau bahkan harus) bekerja ? Baik karena alasan ekonomi atau karena berbagai hal lainnya. Alasan ekonomi, karena dianggap penghasilan suami masih jauh dari cukup atau mungkin belum bisa memenuhi standar hidup yang layak. Seorang ibu akhirnya mau tidak mau ikut bekerja untuk bisa membantu ekonomi keluarga. Meskipun hal tersebut membuat seorang ibu menjadi kelelahan, karena setiap hari, dari pagi sampai sore harus menghabiskan waktunya di tempat kerja. Sementara sepulang kerja, sebagai seorang ibu tetap harus bisa membagi waktunya untuk mengurus anak, suami dan berbagai urusan rumah tangga lainnya. Alasan lainnya yang membuat ibu tetap bekerja adalah masih adanya ambisi pribadi untuk tetap bisa berkembang lebih baik lagi. Ambisi ini dilatarbelakangi oleh adanya anggapan bahwa kebanyakan ibu-ibu yang berdiam diri di rumah menjadi wanita yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan ngerumpi dengan tetangga, teman-teman arisan, lebih memilih hanya nonton televisi atau tontonan lain yang bersifat menghibur daripada membaca atau meng-update info-info terkini, jalan-jalan di mall untuk shopping ( atau mungkin juga untuk menghabiskan uang suaminya ) dan lain sebagainya. Ibu yang tidak bekerja cenderung kurang bisa memaksimalkan potensi dirinya, apalagi berbagai hal yang berhubungan dengan ilmu dan teknologi…terkesan sangat sulit untuk dijangkau. Pokoknya dunianya ibu yang tidak bekerja, menurut anggapan sebagian orang lebih banyak sisi negatif daripada positifnya. Dengan tetap bekerja, seorang wanita merasa tetap bisa mengasah kemampuannya karena tuntutan pekerjaan membuat seeorang mau tidak mau harus terus mengasah skill yang dimilikinya sehingga ia akan terus-menerus bisa meng-up date semua info dan teknologi baru. Bahkan, untuk beberapa orang, bekerja justru menjadi alternatif hiburan bagi dirinya. Bagi orang-orang ini seperti ini, dengan bekerja berarti bisa setiap hari keluar rumah dan bisa bertemu dengan teman-teman tanpa harus merasa pusing dan jenuh dengan rutinitas tugas-tugas rumah tangga.

Dengan berbagai alasan dan fakta-fakta yang diungkapkan, pada akhirnya muncul dilema bagi ibu: apakah lebih baik memilih berhenti bekerja agar bisa lebih maksimal mengurus anak dan rumah tangganya, atau tetap bekerja atau berkarir. Kalau memilih berhenti bekerja berarti harus siap dengan segala konsekuensinya demikian pula kalo memilih tetap bekerja harus bisa mengatasi berbagai hal yang mungkin muncul sebagai akibatnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila seorang ibu tetap ingin bisa bekerja, sebagai berikut :

1. Jika memungkinkan, membuka usaha di rumah atau di tempat lain yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah. Ibu tetap bisa bekerja namun masih tetap bisa mengurus urusan rumah tangganya.

2. Jika terpaksa harus bekerja di luar rumah, sebaiknya memilih jenis pekerjaan yang jam kerjanya normal ( 8-9 jam sehari) serta waktu kerja yang normal, maksudnya ada jatah libur di weekend ( mungkin perlu disesuaikan dengan jadwal libur suami) agar di hari libur bisa berkumpul dengan anak dan suami.

3. Pada saat libur kerja, pergunakan waktu semaksimal mungkin untuk bisa mencurahkan seluruh perhatian kita untuk keluarga. Dalam hal ini mungkin harus didasari prinsip bahwa pekerjaan kantor ya dilakukan di kantor, jangan sampai waktu di rumah juga dipakai habis untuk menyelesaikan urusan-urusan kantor.

Namun, apabila pilihan hati lebih kuat untuk tidak bekerja, ada baiknya seorang ibu tetap bisa melakukan banyak hal yang bersifat positif di sela-sela waktu senggangnya. Karena skill dan kemampuan tidak hanya didapat di kantor, tapi tetap bisa didapat di rumah. Berbagai hal positif antara lain membaca buku atau jika memungkinkan dan ada sarana komputer di rumah juga bisa digunakan untuk meng-update diri. Aktif di kegiatan pengajian juga bisa menjadi pilihan. ya..hitung-hitung menabung untuk kehidupan di akhirat.

Pada akhirnya, apapun pilihannya, apakah tetap bekerja atau berhenti bekerja tergantung pada pilihan hati nurani masing-masing. Yang paling penting, sebagai seorang ibu, jangan sampai merampas hak anak untuk mendapat kasih sayang serta perhatian yang cukup dari orang tua terutama ibunya. Karena anak juga adalah amanah yang akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh yang memiliki hidup dan mati yaitu ALLAH SWT.

6 Tanggapan to “Dilema Ibu yang bekerja : Antara kebutuhan dan kewajiban”

  1. Tipsnya ok bgt lho!
    Secara….. diambil dari pengalaman pribadi yang udah bejibun!
    Hebat euy….

  2. blackdevil22mad Says:

    Keren mom….!!!
    Sampai bingung mau comment pa lagi…..
    Mampir ke Blog saya y mom…..

    The sleepiest student of 12th grade….

    =MAD_BLACK=

  3. Opini yang menarik. Sebagai seorang ibu memang susah dan menjadi dilema memilih antara karir dan menjadi ibu rumah tangga. Pinginnya sih bisa sukses kerja dari rumah. Punya kerjaan yang bisa dikerjakan di sela-sela waktu luang sehingga tetap dapat mendidik anak-anak dengan baik🙂

  4. Rasanya dilema yang berkepanjangan terus nih, kalau tetap berada di dua dunia gini…..tapi kok bisa ya, kita dengan lapang dada meninggalkan buah hati kita demi sejumput rezeki yang tak seberapa…..duh, dunia….mau dikejar sampai ujungpun, ga akan ada habisnya….

  5. Mohon maaf diluar topik Bunda, kami sedang mencari Reseller & Dropshipper Pakaian Bayi dan Anak
    Kami menawarkan berbagai produk dengan harga sangat sangat bersaing.

    Silahkan Bunda kunjungi Online Shop Baju Bayi dan Anak kami di:
    web: bajubajubayi.blogspot.com
    facebook : Baju Baju Bayi

  6. JIKA ANDA SERING KALAH DALAM BERMAIN TOGEL,SILAHKAN HUBUNGI om agus DI NOMOR -085399278797- UNTUK PEROLEHAN ANGKA SGP/HKG 2D 3D ATAU 4D YANG AKURAT TEMBUS DAN TIDAK MENGECEWAKAN ANDA SEKELUARGA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: